Potensi Nematoda Entomopatogen sebagai Agensia Pengendali  Hayati Pada Tanaman Tembakau

Hama utama tanaman tembakau Vorstenlanden pada musim tanam tahun 2015/2016 adalah hama Thrips sp dan Bemisia tabaci. Hama Thrips dengan alat pencucuk penghisap akan menghisap cairan pada daun tembakau dan menimbulkan gejala bercak putih seperti perak pada permukaan daun tembakau. Akibat serangan hama Thrips sp ini akan menurunkan kualitas daun tembakau, semestinya kualitas tembakau NW akan turun menjadi kualitas PW ataupun filler. Serangga B. tabaci merupakan hama vektor penyakit Begomovirus. Serangga ini bersifat persisten yaitu apabila virus sudah masuk dalam jaringan tubuh hama ini, virus tersebut terbawa sampai mati sehingga satu ekor hama dapat menyebabkan tingkat serangan penyakit Begomovirus yang luas karena hama ini “mobile”.

Pengendalian kedua serangga hama tersebut sangat sulit dikendalikan. Pengendalian hanya menggunakan pestisida tidak mampu mengendalikan hama ini mengingat hama ini bersifat “mobile” berukuran kecil dan bisa diterbangkan angin. Upaya yang efektif dilakukan adalah dengan menekan inokulum awal hama ini di komplek tanaman tembakau. Upaya yang dilakukan dengan melakukan sanitasi awal sebelum tanam terutama gulma berdaun lebar, menggunakan barrier fisik dengan menggunakan waring yang dilapisi insect net (127 lubang/cm2) ataupun pagar waring-plastik-waring dan fogging menggunakan bahan white oil dan insektisida Baygon.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan kajian pengendalian serangga   B. tabaci menggunakan NEP (Nematoda entomopatogenik) pada tanaman terong. Uji coba ini dilakukan untuk melengkapi pengendalian serangga   B. tabaci dan Thrips sp, terutama menekan populasi awal kedua serangga hama ini. Hasil uji menunjukkan bahwa NEP mampu mematikan hama B. tabaci minimal satu hari setelah aplikasi NEP. Keberadaan populasi serangga hama ini menurun setelah 2 minggu dengan aplikasi 2 NEP dua kali. Aplikasi NEP pertama tgl 16 November 2015 dan kedua 23 November 2015. Tanggal 17 November total rata-rata B. tabaci per pohon adalah 22,18 ekor/ph dengan jumlah rata-rata B. tabaci yang mati setelah dilakukan aplikasi NEP adalah 6,92 ekor/ph. Pada tanggal 26 november 2015 rata-rata B. tabaci per pohon adalah 5,02 ekor/ph dan masih ada B. tabaci yang mati yaitu 1,12 ekor/ph. Sehingga disimpulkan NEP merupakan agensia hayati yang dapat menekan populasi awal serangga hama B. tabaci.

Nematoda entomopatogen merupakan parasite yang potensial bagi serangga-serangga yang hidup di dalam tanah atau di atas permukaan tanah. NEP sangat berpotensi sebagai agens hayati karena bergerak secara aktif mencari inang dan persisten. Genus nematode pathogen serangga adalah Steinernema dan memiliki keunggulan sebagai agensia hayati dibandingkan musuh alami yang lain yaitu daya bunuh sangat cepat, kisaran inang yang luas, aktif mencari inang sehingga efektif untuk mengendalikan serangga dalam jaringan tanaman, tidak menimbulkan resistensi dan mudah diperbanyak. Nematoda Steinernema spp memiliki kisaran inang yang cukup luas tetapi aman bagi vertebrata dan jasad bukan sasaran lainnya dan dapat diproduksi secara massal baik dalam media in vitro maupun in vivo dengan biaya yang relatif murah.

Mekanisme patogenisitas NEP genus Steinernema terjadi melalui simbiosis dengan bakteri pathogen Xenorhabdus. Infeksi dilakukan melalui mulut, anus, spirakel ataupun penetrasi langsung membrane intersegmental integument yang lunak. Setelah mencapai haemocoel serangga, bakteri simbion yang dibawa akan dilepaskan kedalam haemolim untuk berkembangbiak dan memproduksi toksin yang mematikan. Dua faktor ini menyebabkan nematoda entomopatogen mempunyai daya bunuh yang sangat cepat. Serangga yang terinfeksi dapat mati dalam waktu 24 – 72 jam setelah infeksi. Senyawa antimikrobia ini mampu menghasilkan lingkungan yang sesuai untuk reproduksi nematode dan bakteri simbionnya sehingga mampu menurunkan dan mengeliminasi populasi mikroorganisme lain yang berkompetisi mendapatkan makanan di dalam serangga mati.

Advertisements