Prospek Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dalam Mengendalikan Penyakit pada Tanaman Tembakau

IMG_7530 perkecil

Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) merupakan agensia hayati yang mempunyai peluang dalam mengendalikan penyakit pada tanaman tembakau. Pada diskusi pengendalian hama penyakit pada tanaman tembakau yang diselenggarakan oleh Penelitian Tembakau Klaten pada tanggal 25 November 2014 di Show Room Gudang Pengolah Wedi diketahui bahwa hasil penelitian penggunaan PGPR oleh Jurusan Departemen Proteksi, Fakultas Pertanian, IPB Bogor diketahui bahwa PGPR mampu menekan serangan penyakit begomovirus yang ditularkan oleh serangga vector Bemisia tabaci.

Hadir dalam diskusi adalah staf Penelitian Tembakau Klaten dan Jember, Koordinator Tanaman VBN, Asisten Manajer Tanaman dan Asisten Manager KSU serta Asisten Manager Pengolahan Kebun Tembakau Klaten, Direktur Produksi dan Kepala QC dari PT. Mitratani Dua Tujuh Jember. Sebagai nara sumber adalah staf pengajar dari Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, IPB Bogor yaitu : Bapak Dr. Ir. Suryo Wiyono, MSc., Bapak Dr. Ir. Widodo, MSc dan Bapak Dr. Ir. Kikin H Mutaqin, MSc.

IMG_7573 perkecil

Diskusi pengelolaan penyakit pada tanaman tembakau berlangsung dengan lancar dan antusiasme para peserta diskusi sangat tinggi. Diskusi terselenggara dengan serangkaian acara dimulai dari pemaparan pengelolaan penyakit pada tanaman oleh Bapak Dr. Ir. Widodo, MSc.; Bapak Dr. Ir. Suryo Wiyono, MSc. serta Bapak Dr. Ir. Kikin H. Mutaqin, MSc serta diskusi dan tanya jawab.

IMG_7536 perkecil

IMG_7572 perkecil

Dalam paparannya Dr. Widodo menyampaikan bahwa “Prinsip yang kami terapkan di petani adalah prinsip saling mengajak, tidak sekedar menyampaikan sesuatu tapi juga member”. Selanjutnya penelitian jangan hanya mengasah pisau namun juga gunakanlah untuk memotong (mempraktekkan). Dahulu “Pemberantasan hama dan penykit” yang artinya membunuh habis hama serta penyakit namun hal tersebut kurang pas dan kemudian diganti menjadi “Pengelolaan penyakit tanaman terpadu” karena pemahamannya lebih luas. Secara prinsip pengalaman kami di lapang mudah-mudahan dapat diterapkan di tembakau.

Mengapa tanaman sakit? hal ini dikarenakan adanya tiga komponen yang saling berinteraksi yang disebut segitiga penyakit yaitu adanya tanaman inang, lingkungan (berpengaruh besar, ex : hujan), serta adanya organisme pengganggu tanaman. Yakinilah jika Tuhan tidak hanya menciptakan masalah namun Tuhan juga menciptakan solusi. Segi tiga penyakit kemudian berkembang menjadi Tetrahedron atau piramida penyakit yang terdiri dari : Manusia, Tanaman inang, Lingkungan, serta Organisme pengganggu tanaman. Mengapa organisme muncul sebagai hama ditanaman hal ini dikarenakan populasinya mendekati ambang. Hama dan penyakit juga merupakan bagian dari kehidupan namun yang kita inginkan jumlahnya jangan terlalu banyak di tanaman.

  • Beberapa teknik pengelolaan OPT :
  1. Dengan cara membunuh OPT tersebut. Taktik membunuh dengan racun : populasi OPT dapat turun namun akan berkembang lagi dan kelemahan lainnya hama yang terkena semprot pestisida namun tidak mati justru akan menjadi tahan.
  2. Bagaimana cara membuat agar tanaman itu menjadi kuat dari serangan HPT yaitu dengan tata cara budidaya atau perlakuan lain. Taktik membuat tanaman tahan dan menjaga kebugarannya.
  3. Bagaimana lingkungan fisik, biotik, abiotik kita kondisikan agar tidak sesuai untuk perkembangan HPT. Memperbaiki lingkungan pertanaman agar tidak harmonis dengan OPT.
  • Strategi Pengelolaan Terpadu HPT yaitu tindakan pengendalian dibagi menjadi dua :
  1. Preemptif yaitu tindakan berjaga-jaga.
  2. Responsive yaitu tindakan yang didasarkan pada pengamatan. Perkembangan HPT tergantung sumber awal (Xo), dilakukan melalui pemantauan secara rutin.
  • Pengelolaan OPT yang strategis
  1. Gejala serangan dan kerusakan
  2. Penyebab serangan dan kerusakan
  3. Biologi/cara hidup OPT
  4. Sumber/asal OPT dan cara penularan/penyebarannnya
  5. Fator-faktor yang mempengaruhi perkembangan OPT
  • Benteng alami penjaga kesehatan tanaman :
  1. Ketahanan tanaman :
  2. Penjaga di luar tanaman
  3. Penjaga di dalam tanaman
  4. Manusia yang amanah

Prinsip :

Benteng alami terjaga populasi hama terkendali. Memelihara habitat agar si penjaga tetap hidup.

STRATEGI PENGELOLAAN OPT PENTING PADA TEMBAKAU

  • Virus menjadi permasalahan utama di tembakau. Sifatnya hanya bisa hidup di makhluk hidup : tembakau, terong, wedusan. Pengendalian virus dilakukan dengan mengurangi inokulum awal (sumber OPT awal) yaitu dengan teknik bibit bebas virus, pembersihan sumber di pesemaian dan lahan sebelum tanam. Mengurangi laju perkembangan dengan monitoring dan eradikasi tanaman sakit, serta menekan populasi vektor. Peningkatan ketahanan (terinduksi) dan daya kompensasi.
  • Patogen tular tanah (Phytophthora sp dan Ralstonia sp) :

Dengan solarisasi (penyehatan tanah) : caranya dengan mencampur tanah diareal yang akan disolarisasi menggunakan BO/kompos yang matang dan dibasahi kemudian ditutup dengan plastk. Jika cuaca cerah terus-menerus maka diperlukan waktu 2 minggu namun jika ada mendung maka dapat ditambah waktunya. Mengapa harus menggunakan kompos, karena berdasarkan penelitian “satpam-satpam” (musuh alami) didalam tanah akan tumbuh subur setelah dilakukan solarisasi karena mendapatkan makanan dari kompos.

Dr. Ir Suryo Wiyono menyampaikan bahwa, ”PGPR : bakteri perakaran pemacu pertumbuhan (ada yang bersifat antagonis ada yang tidak), Sifat PGPR : Biopestisida serta Biofertilizer, pencampuran untuk cooting : 10 g PGPR per kg benih untuk cooting. PGPR perlu kadar air tertentu, Rhizobium pada kadar air < 10% akan mati, namun Bacillus pada kondisi tersebut tidak akan mati”.

 Pada termin diskusi beberapa pertanyaan disampaikan oleh peserta diskusi dan dijawab bapak – Bapak dari IPB sebagai berikut :

PERTANYAAN JAWABAN
Pemakaian PGPR kami lihat hasilnya berdasarkan pemaparan diatas cukup signifikan, yang bisa dilihat dari jumlah bintil akar serta diameter batang yang cukup bagus, bagaimana jika diterapkan ditembakau mungkin akan bagus. Namun jika diterapkan pada benih kami lihat agak kesulitan, karena setelah benih kami ambil sebelum kami sebarkan tetap kami jemur lagi.Apakah aplikasi PGPR ditanaman dapat diterapkan?

Apakah aplikasi jenis pupuk dan jumlah pupuk dapat mempengaruhi perkembangan hama dan penyakit?

Bagaimana aplikasi NPV untuk ulat?

Kami ada permasalahan serangan Pseudomonas yang membawa dampak terhadap kualitas. Penyakit muncul saat kondisi hujan, kami optimis pemakaian PGPR dapat menangani permasalahan tersebut. Kadar air benih kami 8,2%, seed treatment dilakukan dengan penggunaan insektisida cair Cruiser serta fungisida. Bemisia sp dan penggerek polong adalah masalah hama yang dominan. Serangan Bemisia sp juga mengakibatkan gagal panen.

Pada pemakaian PGPR adakah persyaratan khusus untuk aplikasi pada bibit maupun pada tanaman agar diperoleh hasil yang efektif?

Kami perlu penjelasan yang mendetail bagaimana pemakaian NPV karena pada tahun ini serangan ulat sangat merugikan.

Pengalaman kami pernah mengaplikasikan PGPR pada bibit di Ketandan dengan cara perendaman sebanyak 5 g/l (Rhizomax) hasilnya pertumbuhan bibit luar biasa. NPV dari Spodoptera sp apakah dapat diaplikasikan untuk Heliothis sp?

Tambahan Bp. B. Hernowo : Pada saat lahan kami terkena serangan Bemisia sp umur 25 hari kami mengalami kekurangan bibit untuk sulam, ternyata bibit dari Ketandan tersebut yang kami gunakan untuk sulam dapat mengejar pertumbuhuhan tanaman yang lain.

Dr. Ir. Widodo :Dialam sebenarnya sudah ada “satpam” (musuh alami). Aplikasi PGPR dilakukan sebanyak 3 kali, jika tanaman sudah menunjukkan pertumbuhan yang bagus/normal jangan sekali-kali menambah dosisnya. Aplikasi untuk tanaman yang pertumbuhannya up normal dapat dilakukan. Barangkali kita dapat menerjunkan mahasiswa untuk mengamati/mengidentifikasi musuh alami apa saja yang ada di pertanaman tembakau.

Pemberian pupuk memiliki pengaruh diantaranya bahwa Pythium sp tidak suka masam dapat dilakukan dengan menambah belerang, sedangkan Phtophthora suka pada pH netral – basa. Unsur Phospat sangat penting untuk ketahanan tanaman terhadap HPT, PGPR dapat melarutkan Phospat sehingga pemberian pupuk SP36 bisa dikurangi.

Dr. Ir. Kikin H. Mutaqin :

Kita perlu mengetahui dari mada asalnya patogen tersebut, ada kemungkinan patogen bertahan pada sisa-sisa tanaman atau inang alternatif / gulma. Jika dikaitkan dengan kondisi lingkungan, Pseudomonas sp pada CH tinggi dan suhu tinggi maka akan memunculkan gejala. Pada RH rendah dan CH rendah maka akan bertahan sebagai epifit (hidup dipermukaan daun, perakaran).

NPV Spodoptere litura spesifik dengan inangnya, jika digunakan untuk hama lain dapat menimbulkan penyakit pada serangga namun efektivitasnya rendah dan perbanyakan NPV Heliothis sp tidak semudah memperbanyak NPV Spodoptera litura.

Dr. Suryo Wiyono :

PGPR diaplikasikan sebanyak 3 kali yaitu pada benih, di pembibitan, dan menjelang tanam sebanyak 200 ml dikocorkan per batang (suspensi 5 g/l) pada umur 5 – 10 hari. Beberapa fungisida berbahan tembaga berpengaruh terhadap PGPR.

PGPR dengan Mikoriza sifatnya kompatibel dimana PGPR akan menyediakan makanan untuk Mikoriza. Namun aplikasi PGPR dilakukan setelah Mikoriza diaplikasikan, perbedaanya aktifitas PGPR berada diluar akar namun Mikoriza didalam akar. Serangan hama Heliothis sp, Spodoptera sp serta Bemisia tabaci jangan hanya mengandalkan agensia hayati namun juga tindakan monitoring. Begitu kita mengetahui ada telur dan tepat setelah telur itu menetas maka saat itulah waktu yang paling tepat kita melakukan tindakan aplikasi pestisida

Berdasarka realisasi dikebun terutama masalah pemupukan, pada pemberian air setelah pemupukan dilakukan sebanyak 1,5 l per pohon tujuannya untuk menyeragamkan tanaman. Mengenai efektivitas PGPR seyogyanya dikaji terlebih dahulu di Penelitian dan jika hasilnya nanti efektif apakah ada perbedaan pemakaian ketika musim kering maupun ketika musim penghujan.Beberapa waktu yang lalu kami mengirimkan sampel yang terindikasi layu ke IPB untuk dilakukan analisa. Ternyata hal yang kami dapat pada rentan waktu satu tahun sumber penyakitnya masih ada. Apakah kedepan kita bisa ploting lagi tanah yang seperti itu melalui pemberian PGPR. Yang paling aman adalah tanah yang pernah melewati rotasi tanam padi. Kami pernah menalami permasalahan serangan hama Bemisia sp dengan pembersihan gulma disekitar areal tembakau ternyata Bemisia sp yang hinggap di gulma terbang berpindah tempat, adakah ada cara lain? Apakah ada tanaman repelent untuk serangga Bemisia sp?

Pada serangan tungau pada cabai dibutuhkan waktu berapa lama tanaman dapat pulih kembali dari serangan setelah diaplikasi PGPR?

NPV pernah kami coba pernah kami coba pengembangannya namun kami belum berhasil. Aplikasi NPV yang tepat pada instar berapa?

Untuk identifikasi parasitoid yang ada di lokasi kebun tembakau kami tertarik dengan adanya kerjasama dengan mahasiswa IPB.

 

Aplikasi PGPR pada musim kemarau dan musim penghujan memang berpengaruh. Tanah di Jember yang berpatogen tidak mungkin kita hindari terus-menerus karena kita harus tanam, cara lain mungkin dapat dilakukan melalui solarisasi. Untuk media semai apakah perlu disterilisasi? sebagai wacana : tanah yang dikukus mengakibatkan kekosongan biologi, sehingga tanaman mudah terserang penyakit. Solarisasi dengan suhu 30 – 40o C selama 2 minggu tidak menyebabkan kekosongan biologi. Untuk mengendalikan serangan Phytophthora sp bagaimana jika ditempuh dengan solarisasi dan ditambah agen hayati. Rotasi tanaman harus ada. Yang penting Phytophthora sp ada namun jangan terlalu banyak. Tanaman pagar untuk tembakau kurang tepat karena ketinggian tanaman tembakau, sebenarnya tujuan pemberian tanaman pagar adalah agar Bemisia sp sebelum hinggap di tembakau akan tercuci setelah menusuk tanaman pagar. Aplikasi agen hayati yang sifatnya endofit sebaiknya dilakukan pada sore hari.

Prinsip pengendalian dengan menguatkan tanaman awal kemudian sumber inangnya dikurangi. Solarisasi ditambah aplikasi PGPR atau Trichoderma itu bagus yang justru akan meningkatkan daya saingnya terhadap patogen. Trichoderma jika ada bahan organik akan cepat sekali tumbuhnya, namun aplikasi pada tanah becek tidak bagus karena tidak akan berkembang atau justru akan mati (pada kapasitas lapang akan terhambat). Pencampuran beberapa agen hayati harus hati-hati. Tanaman yang diserang tungau setelah diaplikasi Bacillus polymexa dan Pseudomonas fluorescens dapat pulih kembali setelah 10 hari. Jamur endovit sifanya juga dapat menolak hama yang datang.

Advertisements